Bupati Lingga Dukung Penuh Hasil Kerajinan Kegiatan Dekranasda Tudong Manto

Semua simbol dibuat dengan tujuan tertentu.
Sistem simbol dalam kain tudung manto sebenarnya adalah sarana pengingat kepada norma dan nilai ideal budaya Melayu Daik. Dengan memakai tudung manto diharapkan si pemakai maupun orang Melayu lainnya yang melihat selalu teringat kepada norma dan nilai budaya mereka yang tersimpan dalam motif tersebut. Oleh sebab itu,
mereka terdorong untuk tetap menjaga perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang diyakini bersama. Pentingnya nilai yang terkandung dalam setiap motif menjadikan tudung manto sebagai benda yang dimuliakan dan bahkan dianggap bertuah, sebagaimana ungkapan Melayu berbunyi
“mulie kaian karne bermakne” (mulia kain karena mengandung makna).

Tudung manto memiliki struktur motif hias,
yang terdiri dari:
Pertama, tali air atas dan bawah, yaitu motif
berbentuk garis pada posisi paling luar yang
dibuat di sekeliling kain bahan dan berfungsi sebagai pembatas motif. Tali air atas merupakan pembatas antara bunga kaki bawah dengan bunga tabur atau bunga pojok. Sementara itu, tali air bawah merupakan pembatas antara oyah dengan
bunga kaki bawah.

Kedua, bunga kaki bawah, yaitu motif
hias yang dibuat antara tali air atas dan tali air bawah. Motif yang digunakan untuk bunga kaki bawah di antaranya awan larat dengan kelok paku, bunga pecah piring dengan kelok paku, itik pulang petang dengan bunga pecah piring, semut
beriring, awan larat dan bunga tanjung, awan larat dengan pecah piring, kelok paku dan bunga kangkung, bunga cengkeh dengan kelok paku, wajik serta kelok paku dengan bunga kundur.

See also  Bupati Lingga Minta Dinas Pariwisata Menjadi Motor Hidupkan Wisata Lokal
Pages: 1 2 3 4 5 6

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *