
Perempuan Melayu di Daik mengenakan kain penutup kepala yang disebut tudung manto. Kain penutup kepala ini memiliki hiasan yang khas dan berbeda dengan penutup kepala yang dikenakan oleh perempuan Melayu di daerah lain di Kepulauan Riau. Perempuan Melayu di
Kelurahan Daik Kabupaten Lingga telah mengenal tudung manto sejak tahun 1700-an, dengan berkembangnya pengetahuan serta keterampilan bertenun di daerah Kampung Mentok, Siak, Sepincan, Tanda, dan Gelam.4
Sekarang kurang lebih 200 tahun telah berlalu, tudung manto masih diproduksi dan dipakai oleh perempuan Melayu di sana. Kemampuan tudung manto bertahan sebagai pakaian adat yang menunjukkan bahwa ia mengandung makna tertentu. Ia merupakan wahana bagi serangkaian makna yang penting bagi orang Melayu Daik.
Jika dilihat sepintas, tudung manto hanya
terlihat sebagai sehelai kain yang merupakan
bagian dari pakaian adat bagi perempuan Melayu Daik. Namun jika dikaji lebih dalam, tudung manto mengandung serangkaian makna yang dipahami bersama oleh suku bangsa Melayu Daik. Rangkaian makna tersebut merupakan bagian dari sistem makna yang membangun kebudayaan mereka. Dengan mengkaji makna yang terkandung dalam tudung manto, kita bisa
memahami nilai-nilai budaya yang mendasari kehidupan orang-orang Melayu Daik.
Setiap motif yang terdapat dalam sehelai
kain tudung manto mengandung makna tertentu yang dipahami bersama oleh masyarakat Melayu Daik. Makna-makna yang ada merupakan konsepsi tentang sesuatu yang dianggap baik, bernilai, dan dicita-citakan oleh orang Melayu Daik. Motif
yang dipakai berbentuk tumbuhan dan hewan yang dipilih secara teliti untuk menjadi wahana bagi konsepsi. Motif-motif tersebut tidak dengan sendirinya menjadi simbol bagi suatu konsepsi, melainkan konsepsi atau nilai itu yang sengaja dilekatkan pada motif-motif yang ada, sehingga motif itu menjadi suatu simbol. Melekatkan motif dengan suatu konsepsi dilakukan dengan sangat teliti. Motif-motif itu dipilih berdasarkan pada pengamatan terhadap kesesuaian antara nilai dan
konsepsi dengan kondisi alamiah motif. Dengan demikian, motif hias tudung manto dapat dipisah dari konsepsi atau nilai yang dikandungnya, sesuai dengan perkembangan alam pikiran masyarakat Melayu yang memakainya.