Matinya Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Membangun Lingga

Matinya Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Membangun Lingga | F. Redaksi
Matinya Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Membangun Lingga | F. Redaksi

Refleksi Kritis atas Hilangnya Nurani Gerakan Kaum Muda

Singkeponline.com | Lingga – Pemuda dan mahasiswa sejatinya merupakan denyut nadi perubahan sosial. Sejarah mencatat, setiap fase penting bangsa ini selalu melibatkan peran aktif kaum muda sebagai penggerak, pengontrol, sekaligus penentu arah masa depan. Namun, realitas yang kini terlihat di Kabupaten Lingga justru menunjukkan gejala sebaliknya. Peran pemuda dan mahasiswa perlahan melemah, bahkan seolah mati dalam proses pembangunan daerah.

Fenomena ini tidak lahir tanpa sebab. Semakin menguatnya sikap apatis di kalangan pemuda terhadap persoalan daerah. Banyak mahasiswa yang memilih fokus pada kepentingan pribadi, mengejar gelar akademik semata, atau terjebak dalam rutinitas organisasi yang seremonial tanpa dampak nyata bagi masyarakat. Diskusi kritis tentang pembangunan Lingga, isu kemiskinan, pendidikan, kemaritiman, dan ketimpangan sosial semakin jarang terdengar di ruang-ruang intelektual.

Sekarang peran mahasiswa sebagai agent of control kian tumpul. Kebijakan pemerintah daerah yang tidak pro-rakyat sering kali berlalu tanpa kritik yang berarti. Budaya “asal aman”, takut berbeda pendapat, dan kecenderungan mendekat pada kekuasaan demi kepentingan jangka pendek telah mereduksi idealisme pemuda. Mahasiswa yang seharusnya menjadi penjaga moral dan nurani publik justru diam, atau lebih parah, memilih berkompromi.

Kini lemahnya ruang partisipasi yang sehat juga turut mematikan peran pemuda. Tidak sedikit gagasan kritis dari mahasiswa yang berakhir tanpa tindak lanjut. Aspirasi sering kali hanya dijadikan pelengkap formalitas, bukan sebagai bahan pertimbangan kebijakan. Akibatnya, pemuda merasa suaranya tidak lagi bermakna, lalu memilih menjauh dari proses pembangunan.

Di sisi lain, pemuda Lingga juga dihadapkan pada krisis identitas dan arah gerakan. Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang seharusnya menjadi laboratorium kepemimpinan justru terjebak pada konflik internal, kepentingan kelompok, bahkan politisasi praktis. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun daerah habis dalam perebutan jabatan dan simbol kekuasaan.

Matinya peran pemuda dan mahasiswa dalam membangun Lingga bukan hanya kerugian bagi generasi muda itu sendiri, tetapi ancaman serius bagi masa depan daerah. Tanpa kritik, tanpa gagasan segar, dan tanpa kontrol sosial, pembangunan berisiko kehilangan arah dan keadilan.

Sudah saatnya pemuda dan mahasiswa Lingga melakukan refleksi mendalam. Peran sebagai kaum intelektual tidak cukup hanya hadir dalam baliho kegiatan atau unggahan media sosial. Pemuda harus kembali turun ke masyarakat, membaca persoalan nyata, menyuarakan kebenaran, serta berani mengambil posisi yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Kebangkitan Lingga tidak akan lahir dari diamnya pemuda. Ia hanya akan terwujud jika mahasiswa dan generasi muda kembali menghidupkan perannya sebagai agen perubahan kritis, berani, dan berintegritas. Tanpa itu, “matinya” peran pemuda bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang akan diwariskan pada generasi berikutnya.

Penulis: Muhammad Fatur, S.Pd

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *