
Di Antara Kritik, Kolaborasi, dan Tanggung Jawab Moral
Singkeponline.com | Lingga – Mahasiswa bukan musuh pemerintah dan pemerintah bukan objek yang harus selalu diserang. Dalam konteks pembangunan Lingga yang kompleks daerah kepulauan dengan keterbatasan fiskal dan infrastruktur dibutuhkan kolaborasi, bukan sekadar oposisi emosional. Mahasiswa yang memilih berdiskusi dan terlibat tidak otomatis dapat dicap sebagai pengkhianat idealisme.
Namun demikian, kemitraan tidak boleh berubah menjadi pembenaran. Mahasiswa yang kritis tetap wajib bersuara ketika kebijakan menyimpang dari kepentingan rakyat. Diam demi akses kekuasaan adalah bentuk pengkhianatan. Tapi menutup ruang dialog demi citra “paling kritis” juga bukan solusi.
Mahasiswa Lingga yang berintegritas adalah mereka yang berani mengatakan benar sebagai benar, dan salah sebagai salah siapa pun penguasanya. Mereka hadir di ruang publik bukan untuk mencari sorotan, melainkan membawa gagasan yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Pembangunan Lingga tidak akan maju jika mahasiswa hanya saling melabeli. Yang dibutuhkan adalah keberanian intelektual, berani mengkritik tanpa menghina, berani bekerja tanpa menjilat, dan berani berbeda tanpa kehilangan arah.
Mahasiswa sejati tidak tunduk pada kekuasaan, tetapi juga tidak alergi terhadap kerja sama. Di sanalah posisi ideal mahasiswa Lingga berdiri di tengah, berpihak pada rakyat, dan setia pada nurani.
Penulis : Muhammad Fatur, S.Pd