“Hal ini dilakukan agar udang dapat tumbuh sesuai ukuran yang memiliki nilai jual tinggi. Untuk satu kolam ditargetkan akan menghasilkan 10 ton udang dengan kualitas baik,” bebernya.
Hasil panen saat ini diprioritaskan untuk pasar lokal, namun untuk ukuran besar dilakukan ekspor ke Singapura.
Hingga saat ini, Kenzi mengaku belum mendapatkan kendala berarti untuk usaha tambak yang dilakukannya di Kecamatan Singkep Pesisir ini. Sarana dan prasarana pendukung cukup memadai untuk melakukan usaha tambak di daerah ini.
“Listrik dan air merupakan sarana penting. Listrik masih cukup, kami hanya menyiapkan mesin untuk mengantisipasi listrik padam,” ucapnya.
Selain listrik dan sarana pendukung lainnya, untuk menghasilkan panen yang memadai ia juga memaksimalkan pengelolaan limbah. Agar air limbah tidak mencemari sungai dan pantai yang menjadi sumber usaha tambak, pengelolaan air mengunakan sistem Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).
“Untuk di Lingga baru saya yang mengunakan IPAL untuk pengelolaan air limbah. Nanti limbah akan di lakukan tiga tahap. Kolam pertama obat yang dapat menetralkan air. Begitu juga di kolam kedua hingga pada kolam ketiga akan dipelihara ikan. Jika ikan tidak mati berarti air limbah sudah netral dan kemudian di alirkan ke sungai,” jelasnya.
Dengan target 120 kolam hingga tahun 2024 diperkirakan akan terserap 100 tenaga kerja lokal. Penyerapan tenaga kerja lokal menjadi prioritas Kenzi untuk menghidupkan perekonomian masyarakat. Sebagai putra asli daerah ia memiliki tanggung jawab moral untuk kesejahteraan masyarakat.