Listrik Padam Berhari-hari, Warga Desa Mepar Desak Solusi Permanen

Listrik Padam Berhari-hari, Warga Desa Mepar Desak Solusi Permanen | F. Pinterest
Listrik Padam Berhari-hari, Warga Desa Mepar Desak Solusi Permanen | F. Pinterest

Mesin pembangkit dinilai tak layak, aktivitas lumpuh hingga potensi desa wisata terancam

Singkeponline.com | Lingga – Warga Desa Mepar tak lagi sekadar mengeluh. Mereka kini mendesak tindakan nyata atas buruknya layanan listrik yang tak kunjung stabil. Mesin pembangkit yang terus mengalami kerusakan dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Gangguan listrik terjadi berulang tanpa solusi yang jelas. Pemadaman dalam durasi panjang bukan lagi kejadian insidental, melainkan telah menjadi rutinitas yang merugikan warga hampir setiap hari.

Akibat kondisi tersebut, berbagai aktivitas masyarakat ikut terdampak. Anak-anak kesulitan belajar, usaha kecil terganggu, dan kebutuhan rumah tangga tidak dapat terpenuhi secara normal.

Warga juga menilai upaya perbaikan yang dilakukan selama ini hanya bersifat sementara. Mesin yang sama terus diperbaiki, namun tetap tidak mampu menopang kebutuhan listrik desa secara berkelanjutan.

“Ini bukan lagi soal gangguan biasa, tapi sudah sangat merugikan masyarakat,” ujar salah satu warga.

Desakan pun diarahkan kepada pemerintah daerah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar segera mengambil langkah tegas. Warga meminta solusi permanen, bukan perbaikan sementara yang terus berulang tanpa hasil.

Salah satu solusi yang dinilai paling realistis adalah penyambungan jaringan listrik dari pusat ibu kota Kabupaten Lingga. Warga menilai jarak yang tidak terlalu jauh seharusnya tidak lagi menjadi kendala.

Kondisi ini terasa semakin ironis saat momen Hari Raya, ketika listrik justru kerap padam. Momen yang seharusnya penuh cahaya berubah menjadi simbol kegagalan pelayanan dasar.

Padahal, Desa Mepar memiliki potensi besar sebagai desa wisata dan bahkan telah masuk dalam nominasi 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia. Namun tanpa dukungan listrik yang memadai, potensi tersebut terancam tidak dapat berkembang secara optimal.

Kepala Desa Mepar, Handoyo, mengatakan bahwa pemadaman listrik telah terjadi sejak lebaran ketiga dan hingga kini belum kembali normal. Ia menyebutkan bahwa selama ini listrik di desa tersebut hanya menyala selama 14 jam, yakni dari pukul 17.00 hingga 07.00 WIB.

“Di Desa kita sudah dua hari tidak ada listrik, masyarakat pun sudah pada mengeluh. Padalah listrik kita hanya nyala 14 jam, ini malah tidak menyala sama sekali,” kata Handoyo, Rabu 25 Maret 2026.

Menurutnya, kondisi mesin pembangkit yang ada saat ini memang sudah tidak layak dan kerap mengalami kerusakan. Namun pada kejadian kali ini, mesin bahkan tidak dapat beroperasi sama sekali.

“Kondisi mesin yang ada memang tidak layak,” ujarnya.

Warga kini menunggu keberanian pemerintah daerah dan PLN untuk bertindak nyata. Mereka menuntut layanan listrik yang stabil sebagai hak dasar, bukan sekadar janji yang terus berulang tanpa realisasi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *